KERAJINAN TANGAN TENUN PAGATAN
1. Pengertian
Tenun
Tenun adalah kegiatan menenun kain dari
helaian benang pakan dan benang lungsin yang sebelumnya diikat dan dicelupkan ke dalam zat pewarna
alami.
2.
Asal-usul
A.
Seni tenun telah dikenal masyarakat
sejak Nusantara masih menyatu dalam berbagai bentuk kerajaan. Menenun merupakan
kegiatan sehari-hari masyarakat terutama kaum perempuan, baik untuk tujuan
kormersil atau sekadar untuk mengisi waktu luang.
B.
Di Kalimantan, pekerjaan menenun
telah ada sejak zaman kerajaan Negara Dipa di Amuntai. Hal tersebut tertuang
dalam naskah Tutur Candi yang berbunyi: “Mula-mula
kapas digawi urang dan itu tapih pitung warna ada yang menggiling, ada yang
mahambat dan ada yang menggantih dan manisi dan yang manyikat dan yang
maawiludar dan yang mahani dan mananun, maka tuntung pada sahari itu jua
maulah”. Artinya:
“Mulai kapas dikerjakan orang, dan sarung yang tujuh warna itu ada yang
menggiling, ada yang memukul-mukul, menggantih, manisi dan yang
menenun, maka selesai pada satu hari itu juga membuatnya” (Sjarifuddin,
1994/1995: 4).
C.
Kain tenun tradisional Bugis Pagatan
atau terkenal dengan sebutan Tenun Pagatan dibuat oleh
para pendatang Suku Bugis Wajo ke Pagatan. Perpindahan penduduk, baik yang
dilakukan secara sendiri maupun berkelompok, berarti juga perpindahan
kebudayaan. Orang-orang Bugis yang datang dan mendiami wilayah Pagatan dan
sekitarnya membawa tradisi dan kebudayaan mereka. Begitu pula dengan kemunculan
tenun tradisional Bugis Pagatan. Tenun Pagatan muncul bersamaan dengan
kedatangan para perantau Bugis pada pertengahan abad ke-18.
D.
Pagatan adalah nama sebuah pulau
yang hanya terdiri dari satu desa, yaitu Desa Pagatan. Desa ini masuk wilayah
Kecamatan Kusan Hilir, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan. Kemunculan
masyarakat Bugis yang mendiami Pagatan tak lepas dari peran Puanna Dekke,
seorang perantau dari kerajaan Wajo, yang membangun Pagatan menjadi tempat
permukiman pada tahun 1750. Pada mulanya, Puanna Dekke hendak merantau ke
wilayah Kabupaten Pasir, namun tidak jadi dan berpindah ke Pulau Pagatan. Atas
izin Sultan Banjar VII bergelar Susuhunan Nata Alam (1734), Puanna Dekke serta
beberapa perantau Bugis yang lain membangun Pulau Pagatan menjadi sebuah kampong.
E.
Kampung Pagatan kemudian berkembang
menjadi kerajaan, yaitu Kerajaan Pagatan (1755-1908). Raja pertama Kerajaan
Pagatan adalah La Pangewa (1755-1800) yang diberi gelar Kapitan Laut Pulo oleh
Panembahan Batu, sedangkan raja terakhirnya Andi Sallo atau Arung Abdurahman
(1893-1908). Kerajaan Pagatan menggunakan adat-istiadat, gelar kebangsawanan,
dan tradisi Bugis dalam pemerintahannya. Demikian pula dengan pakaian yang
mereka kenakan. Mereka memakai kain hasil tenunan sendiri dengan peralatan yang
mereka bawa dari daerah asal. Sehingga peralatan dan segala proses menenun
menggunakan istilah Bugis dialek Wajo.
Saat ini, perkembangan
Tenun Pagatan mengalami perkembangan pesat. Berbagai jenis pakaian muncul
kemudian menggunakan tenun jenis ini. Tenun Pagatan tidak hanya digunakan
sebagai pakaian tradisional saja. Namun juga berbagai jenis pakaian yang lain.
3. Tenun
Pertiwi Khas Pagatan
Beberapa kilometer sebelum jembatan
penghubung Desa Manurunge dengan desa Mudalang, terdapat sebuah koperasi kecil
yang menghasilkan beberapa kerajinan kreatif seperti kain tenunkhas Bugis
Pagatan, dan beberapajenis kerajinan lainnya. Usaha ini dilakukan sejak tahun
1974 oleh warga disekitar Desa Manurunge, kini koperasi rakyat ini menghasilkan
beragam jenis motif tenun yang sering digunakan oleh masyarakat Klimantan
Selatan pada umumnya dan khususnya Tanah Bumbu.
“ Beberapa hasil kerajinan Tenun Pertiwi
ini digunakan dalam perayaan busana, seperti pada parade budaya, bahkan pada
salah satu hasil tenun kami disana sempat menjuarai peragaan busana yang
dilaksanakan di Singapura ,” kata Salman ketua koperasi Tenun Pertiwi ini.
Ditambahkannya “mengurai benang dan membentuk beragam jenis motif, sangat sulit
tapi semua itu terbayar saat beberapa uraian benang itu kita satukan dan
menjadi sebuah potongan kain yang dapat dijadikan sarung ataupun baju.”
Proses pembuatan alat tenun bukan mesin
ini di mulai dari proses penguntalan benang, dibentuk kemudian proses mengikat
benang, setelah itu pewarnaan benang kemudian ditenun.
“Kreatifitas dan kesabaran merupakan
kunci dalam melaksanakannya, kini koperasi ini dapat mempekerjakan masyarakat,
sekitar 50 orang lebih, masyarakat yang ikut dalam koperasi tenun Pertiwi ini”.
Hal ini dikatakan Marina salah satu anggota koperasi dan penenun. Tiap tahunnya
beberapa dari kami diikutkan pelatihan tenun di luar provinsi Kalimantan
Selatan guna memberikan pengalaman dan ilmu baru yang dapat di infestasikan dan
di bagikan keteman lainnya
4. Jenis Tenun
Pagatan
Berdasarkan
cara menenun dan cara membuat hiasan pada kain tenun, ada beberapa jenis kain
Tenun Pagatan yaitu:
a. Jenis Songket (so’be)
Tenun
Pagatan yang berjenis songket terdapat dua macam, yaitu jenis so’be are dan jenis so’be
sumelang. Ornamen pada so’be are dibuat
tembus ke sebelah dalam. Caranya adalah menyisipkan benang tenun untuk membuat
ornamen tersebut ketika menenunnya. Meskipun begitu, hiasan yang terlihat baik
hanya bagian luarnya saja, bagian dalam tidak bagus untuk dipakai karena hanya
merupakan tembusan dari benang songket tersebut. Sedangkan ornamen pada so’be
sumelang hanya
disisipkan pada bagian muka saja, tidak tembus ke dalam.
b. Jenis
Tenun Ikat (bebbe)
Jenis tenun
ini dibuat dengan cara mengikat benang tenun sebelum dicelupkan ke dalam zat
pewarna. Mengikat benang dengan kulit batang pisang ini dalam bahasa Bugis
Pagatan disebut membebbe.Karena
itulah nama tenun ini adalah tenun bebbe atau tenun
ikat. Proses menenun benang dilakukan setelah benang tersebut dicelupkan ke
dalam zat pewarna. Proses menenun dilakukan dengan cara mengatur benang tenun
sesuai dengan ikatan pada waktu benang dicelupkan ke dalam pewarna. Dan jadilah
sebuah ornamen sesuai dengan corak yang diinginkan oleh penenun.
c. Jenis
Panji
Hiasan pada
tenun Panji tidak dibuat melalui ikat atau songket, tapi dengan motif anyaman
langsung melalui benang pakan atau pasulu yang
dianyamkan pada benang dirian. Hasilnya
adalah ragam khusus sesuai dengan yang diinginkan melalui anyaman benang tenun
yang sudah diwarnai. Jadi, motif anyaman tersebut dibuat secara langsung dan
diatur sendiri oleh penenun.
d. Sarung
Kotak-kotak Biasa
Jenis sarung
kotak-kotak pada kain Tenun Pagatan sebenarnya hanya merupakan dasar hiasan
saja. Karena pada perkembangannya kemudian, jenis tenun sarung kotak-kotak
digabungkan dengan berbagai motif hiasan yang lain. Bentuk dasar kotak-kotak
dapat digabungkan dengan songket, baiksobbe are maupun sobbe
sumelang. Bentuk dasar kotak-kotak menggunakan anyaman jenis
panji atau jenis bebbe.
Secara umum,
sebenarnya Tenun Pagatan mempunyai pola dasar (sujubila) yang kemudian
menjadi dasar pola hiasan yang beraneka ragam. Pola-pola hiasan dasar tersebut
mereka buat sebagai acuan pada kain-lain tertentu untuk dijadikan acuan dalam
mereka menenun. Beberapa pola dasar hiasan Tenun Pagatan, misalnya bentuk
burung, kuda, keris pohon kayu yang berada di tengah laut (fujengki),
anak panah, burung di pohon, angsa, babi, pohon kayu biasa, rantai, singa,
orang bermain panah, naga, kelinci, jambangan bunga, kaligrafi, kembang bakung,
dan berbagai motif yang lain.
5. Bahan dan Cara
Pembuatan
Pembuatan
kerajinan seni Tenun Pagatan tersebut masih berlangsung hingga sekarang.
Sjarifuddin (1994/1995:18-26) menjelaskan beberapa bahan untuk membuat Tenun
Pagatan dan cara pembuatannya. Bahan dan proses pembuatan Tenun Pagatan adalah
sebagai berikut.
a. Bahan
Bahan baku untuk
membuat tenun ini adalah benang yang telah siap digunakan, antara lain:
1. Benang
Tenun
Terdapat
empat macam benang yang dapat digunakan untuk menenun dengan tingkat kualitas
yang berbeda-beda, yaitu:
2. Benang
sutra yang berasal dari sutra alam
Sutra ulat
yang digunakan untuk membuat Tenun Pagatan ini pada zaman dahulu langsung
didatangkan dari Sulawesi. Bahan tersebut kemudian
diolah di Pagatan. Saat ini, daerah Pagatan sekitarnya sudah tidak ada lagi
yang menggunakan sutra alam. Sebagai gantinya, pengrajin menggunakan benang
biasa atau benang Samarinda, benang yang digunakan untuk membuat sarung
Samarinda. Sutra alam merupakan bahan yang paling baik untuk bahan pembuatan
Tenun Pagatan, baik secara kualitas maupun kehalusannya.
3. Benang Samarinda
Sesuai
dengan namanya, benang Samarinda adalah benang yang digunakan untuk membuat
sarung Samarinda. Benang ini tidak diolah secara tradisional, namun dibuat oleh
pabrik.
4. Benang Singapur
Merupakan
benang buatan pabrik yang digunakan untuk membuat Tenun Pagatan. Kualitas
benang ini lebih baik daripada benang Samarinda, namun lebih buruk dibanding
benang sutra alam.
5. Benang Biasa
Benang biasa
yang digunakan untuk membuat seni Tenun Bugis Pagatan ini adalah benang biasa
yang telah diwarnai oleh pabrik pengolah dengan berbagai warna. Benang ini
biasanya digunakan untuk berbagai keperluan lain selain tenun, misalnya bahan
untuk membuat bordir dan menyulam.
·
Bahan pewarna
Bahan
pewarna digunakan untuk mewarnai benang yang siap digunakan untuk menenun.
Bahan pewarna ada dua macam, yaitu bahan pewarna tradisional dan buatan pabrik.
Bahan
pewarna tradisional ialah kesumba atau nila dan daun kabuau untuk warna
hitam. Kabuauadalah
sejenis tumbuhan yang buahnya digunakan sebagai kelereng dalam permainan
kelereng di wilayah pedesaan Kalimantan Selatan. Cara menggunakan daun kabuau sebagai
pewarna, yakni daun kabuau direbus
kemudian bahan yang ingin diberi warna dicelupkan ke dalam rebusan daun kabuau.
Setelah itu,
bahan tadi dibenamkan ke dalam lumpur selama satu malam, lalu dicuci dan
dikeringkan.
Bahan
pewarna buatan pabrik yang digunakan untuk mewarnai benang tenun adalah wantek.
Warna wantek beraneka ragam, sehingga memudahkan pembuat tenun untuk
menciptakan corak tenun sesuai yang mereka inginkan. Cara menggunakannya adalah
dengan mencelupkan benang ke dalam wantek.
·
Bahan Pengawet Tradisional
Bahan
pengawet digunakan untuk menjaga warna agar tidak luntur. Bahan pengawet yang
biasa digunakan adalah bahan pengawet tradisional, bukan bahan pengawet buatan
pabrik. Bahan pengawet tradisional yakni buah nyiur yang masih sangat muda dan
kulit jambu mete. Proses penggunaannya, masing-masing bahan tersebut ditumbuk,
dicampur dengan air, kemudian disaring airnya. Selanjutnya, benang yang sudah
diwarnai tadi dicelupkan ke dalam air saringan itu.
b. Peralatan
Peralatan
yang digunakan untuk membuat Tenun Bugis Pagatan sama dengan yang alat tenun
dari daerah asalnya, yaitu Sulawesi Selatan. Namun, peralatan tenun yang
digunakan di daerah Pagatan dan sekitarnya dibuat dari kayu yang banyak
terdapat di daerah itu. Berikut ini beberapa peralatan yang digunakan untuk
membuat kain tenun tradisional Bugis Pagatan.
·
Roweng atau mesin
uluran, yaitu peralatan untuk mengulur atau membuka benang dari gulungannya.
·
Ola. Alat ini
digunakan untuk menggulung benang tenun.
·
Unuseng atau papali, digunakan
untuk melereng benang pasulu atau benang pakan, yaitu
benang yang digunakan untuk menyisipkan benang sau pada saat
menenun.
·
Pamedangan. Alat ini
digunakan untuk mengikat benang pada tenun ikat sebelum dicelupkan ke dalam
bahan pewarna.
·
Saureng, yaitu alat
untuk menyusun benang dirian.
·
Patekko. Alat untuk
menahan kedua benang dirian atau sau pada waktu mahani.
·
Belebas. Alat untuk memisahkan
benang dirian.
·
Penggulung (awereng) dan
pucucukkare. Alat untuk membuat sela atau jarak yang memisahkan benang dirian
(sau).
·
Are, yaitu alat
untuk mengatur dan menyelipkan benang tenun songket pada waktu membuat ornamen
pada kain tenun jenis songket.
·
Sisir (jakka). Alat untuk
mengatur benang dirian (sau).
·
Pamalu, yaitu alat
untuk menggulung benang dirian (sau)
yang belum ditenun.
·
Pessa. Alat untuk
menggulung kain yang sudah ditenun atau sau yang sudah
ditenun denganpasulu-nya.
·
Simong. Alat untuk
menempatkan pamalu.
·
Tamrajeng merupakan
alat yang dapat menimbulkan bunyi pada waktu merapatkan benangpasulu atau benang pakan. Fungsinya,
agar orang tahu kalau di tempat itu ada orang sedang menenun.
·
Boko-boko adalah alat
untuk merentangkan benang dirian pada waktu
menenun.
·
Bulang. Alat ini
dalam bahasa Banjar disebut tali tampar. Fungsinya menghubungkan boko-bokodidorong ke
belakang sehingga benang dirian menjadi
kencang.
·
Papanenre. Dalam
bahasa Banjar disebut papankatinjakan yang
berfungsi sebagai tempat kaki berpijak.
·
Walida atau walira dalam bahasa
Banjar. Alat ini berfungsi untuk membuat ruang pemisah pada benang sau sehingga memudahkan
untuk memasukkan turak atau
teropong yang berisianggaliri/lerengan yang berisi
benang pasulu yang
digulung.
·
Sakka (dalam
bahasa Banjar: sumbi) berfungsi
untuk menjaga tepi kain agar tetap lebar.
c. Cara Pembuatan
Di atas
telah dijelaskan bahwa terdapat beberapa jenis Tenun Pagatan, dua di antaranya
adalah jenis tenun ikat (bebbe) dan tenun songket (so’be). Kedua
jenis kain ini dibuat dengan cara yang berbeda. Proses pembuatan kedua jenis
Tenun Pagatan ini adalah sebagai berikut.
·
Tenun Songket
Pertama,
Langkah pertama adalah mangola, yaitu
memasukkan seikat benang tenun ke dalamruweng, yang kemudian digulung
dengan gulungan benang (ola) yang dibuat khusus untuk membuka benang
dari gulungan aslinya (gincilan).
Kedua, makajuneng. Yaitu
memindahkan benang dari ola ke ajuneng, lalu
dihitung berapa yang akan diikat dengan kulit batang pisang (gadang)
sebelum dicelupkan ke dalam zat pewarna.
Ketiga, mengikat
(mem-bebbe). Mengikat benang yang telah berada di ajuneng sesuai
dengan pola yang diinginkan.
Keempat.
Ikasumba. Mencelup benang-benang yang telah diikat (di-bebbe) ke
dalam zat pewarna.
Kelima,
menjemur benang (irakui).
Keenam, membuka
ikatan (mabuka bebbe). Setelah benang yang dijemur tersebut kering,
langkah selanjutnya adalah membuka ikatannya.
Ketujuh, dipali, yaitu menggulung
benang ke anagaliri benang, benang pakan, atau pasulu. Alat yang
dipakai adalah onoseng atau lerengan untuk melereng pasulu. Pasulu adalah
benang pakanyang
dianyamkan ke dalam benang dirian pada waktu
menenun. Dipali, yaitu benang
tersebut digulung pada papali, sehingga
benang tergulung pada anagaliri. Setelah
semua peralatan ini siap, barulah proses menenun dilakukan.
·
Tenun Songket
Pertama, memberi
warna pada benang tenun yang akan dijadikan bahan tenun tanpa diikat.
Kedua, menganji
(ipandre. Mencelupkan benang yang akan digunakan untuk bahan tenun ke dalam
tepung beras yang telah dimasak terlebih dahulu. Tepung kanji ini dipergunakan
untuk mengeraskan benang.
Ketiga,
mangola. Yaitu,
menyisipkan benang tenun membentuk sesuai dengan pola yang telah dibuat.
5. Fungsi Tenun Pagatan
Fungsi Tenun
Pagatan senantiasa berkembang dari waktu ke waktu. Pada mulanya Tenun Pagatan
cuma dibuat untuk kain sarung. Dan kain sarung itu pun hanya dipakai oleh kaum
laki-laki. Pada perkembangan selanjutnya, kain sarung Tenun Pagatan tidak hanya
dipakai oleh kaum laki-laki, namun juga para perempuan.
Selain
sarung, Tenun Pagatan pada zaman dahulu juga digunakan untuk membuat pakaian
para raja, terutama Raja Bugis Pagatan. Pakaian tersebut berupa celana kerja
yang disebut “Sulara Pajama”, baju, dan sarung. Tenun Pagatan untuk pakaian
raja biasanya menggunakan motif khusus.
Perkembangan
fungsi Tenun Pagatan terus berlangsung hingga sekarang. Saat ini, Tenun Pagatan
sudah banyak digunakan untuk berbagai jenis pakaian sesuai dengan selera
pemakai atau pemesannya. Beberapa jenis pakaian yang dibuat dari Tenun Pagatan,
misalnya sarung, dasi, stagen, selendang, baju biasa, rok, kain panjang, busana
muslim, pakaian tari, dan lain-lain.
6. Nilai-Nilai
Tenun
Pagatan mengandung nilai-nilai sebagai berikut.
a. Nilai Ekonomi
Menenun
merupakan salah satu kegiatan yang dapat mendatangkan keuntungan secara
ekonomis. Menenun menjadi sumber penghasilan tambahan bagi masyarakat Pagatan
selain mata pencaharian mereka sebagai pelaut. Tenun Pagatan yang pada mulanya
merupakan pakaian tradisional yang dipakai orang-orang atau dalam kegiatan
tertentu, kini berkembang dalam berbagai bentuk pakaian. Tentunya perkembangan
ini menguntungkan pengrajin, yaitu kelangsungan mata pencaharian mereka tetap
terjaga dan pengetahuan mereka tentang tenun semakin meningkat dengan berbagai
inovasi yang mereka lakukan.
b. Nilai Budaya
Kain Tenun
Pagatan merupakan warisan budaya bernilai tinggi. Masyarakat telah melakukan
kegiatan menenun ini selama ratusan tahun. Hampir semua masyarakat di berbagai
wilayah di Indonesiamasing-masing mempunyai
kerajinan tenun. Dari sekian banyak jenis tenun yang ada dari berbagai daerah
itu, tentu saja tak jarang yang mulai punah. Oleh karena itu, Tenun Pagatan
yang masih ada hingga saat ini perlu dilestarikan dan dikembangkan sebagai
warisan budaya.
c. Nilai Sosial
Tenun Pagatan menjadi ciri khas kebudayaan para
perantau Bugis di Kalimantan Selatan. Tenun ini menandakan bahwa kebudayaan
yang ada di sebagian besar wilayah Indonesia atau Nusantara pada masa lalu adalah hasil perpaduan
satu budaya dengan budaya yang lain. Artinya tidak ada kebudayaan yang berdiri
sendiri tanpa ada pengaruh dari budaya yang lain. Seperti halnya akulturasi
budaya Melayu yang telah berlangsung selama ratusan tahun. Ini ditandai dengan
kemiripan budaya di antara berbagai masyarakat Melayu, misalnya dari segi
bahasa, peralatan, kesenian, pakaian, dan sebagainya.
BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan
Tenun
Pagatan merupakan salah satu kerajinan khas Melayu yang perlu dilestarikan dan
dikembangkan. Saat ini, tenun tradisional Pagatan semakin berkembang dalam
berbagai jenis pakaian.
2.
Saran
Sebaiknya
para pengrajin kain tenun Pagatan terus mengembangkan kain tenun khas Pagatan
ini, karna selain menambah penghasilan warga setempat, juga dapat berfungsi
untuk mengenalkan asset budaya daerah tersebut kekencah yang lebih luas lagi,
dan pemerintah daerah juga harus ikut serta dalam penunjangan dan pelestarian
tenun pagatan ini.
Demikian makalah
tentang “KERAJINAN TANGAN TENUN PAGATAN” , semoga makalah yang kami buat dapat
menambah informasi dan pengetahuan pembaca dan jika ada kesalahan dalam
pembuatan makalah ini. Sekian dan terima kasih.
DAFTAR PUSTAKA
Sjarifuddin et. al. 1994/1995. Tenun Koleksi Museum Negeri Propinsi Kalimantan Selatan Lambung
Mangkurat. Banjarbaru: Departeman Pendidikan dan Kebudayaan,
Direktorat Jenderal Kebudayaan, Bagian Proyek Pembinaan Permuseuman Kalimantan
Selatan.